Data baru menunjukkan AI mengurangi ribuan pekerjaan setiap bulan, terutama bagi pemula, sementara pemimpin perusahaan tetap positif.
Sumber gambar: CoinTelegraph
Kesenjangan yang semakin besar antara apa yang dipikirkan bos perusahaan tentang AI dan apa yang sebenarnya terjadi pada pekerjaan menimbulkan kekhawatiran.
Penelitian baru dari Goldman Sachs (bank investasi besar) mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan (AI - program komputer yang dapat berpikir dan belajar) menghilangkan 16.000 pekerjaan setiap bulan. Ini terjadi meskipun para eksekutif perusahaan (manajer puncak) tetap antusias dengan teknologi AI.
Kehilangan pekerjaan ini sangat mempengaruhi pekerja muda: • Posisi tingkat pemula (pekerjaan untuk pemula) turun 50% dibandingkan sebelum COVID • Perusahaan teknologi mempekerjakan jauh lebih sedikit lulusan baru • AS hanya menambahkan 178.000 pekerjaan baru pada bulan Maret, dengan hampir tidak ada di bidang teknologi
Sementara 80% eksekutif mengatakan mereka menggunakan AI setiap minggu dan melihat hasil positif, pekerja biasa menceritakan kisah yang berbeda. Sebuah studi menemukan bahwa 43% karyawan mengatakan pekerjaan mereka menjadi lebih membuat frustrasi sejak AI diperkenalkan.
Masalahnya lebih dari sekedar kehilangan pekerjaan. Ketika pekerja digantikan oleh AI, mereka sering berakhir di posisi dengan gaji lebih rendah yang membutuhkan keterampilan lebih sedikit. Ini dapat merugikan karir mereka selama bertahun-tahun.
Ketidakcocokan ini jelas: Pemimpin perusahaan melihat AI sebagai alat untuk pertumbuhan dan efisiensi (melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit), tetapi pekerja mengalami kehilangan pekerjaan, peningkatan frustrasi, dan lebih sedikit peluang - terutama bagi mereka yang baru memulai karir mereka.
Ini adalah ringkasan yang dihasilkan oleh AI. Baca artikel aslinya di: https://cointelegraph.com/news/reality-ai-impact-employment-clashes-optimism?utm_source=rss_feed&utm_medium=rss&utm_campaign=rss_partner_inbound